Kontroversi Nanotyrannus, Temuan Fosil Remaja T.Rex Kian Perkuat Argumen Ontogeni

Tyrannosaurus rex kerap digambarkan sebagai predator purba tak terbantahkan—dengan panjang lebih dari 12 meter, berat melebihi sembilan ton, dan kekuatan gigitan lebih dari 5.400 kilogram. Namun, kisah T. rex jauh lebih kompleks dari sekadar kerangka dewasa yang mengagumkan. Rahasia pertumbuhannya yang dramatis memegang kunci dalam memecahkan teka-teki paleontologi yang memicu kontroversi selama tiga dekade terakhir.

Di dalam tulisan National Geographic Indonesia (26/04/2025), misteri ini berakar pada  penemuan di timur Montana. Pada tahun 1942, sebuah tengkorak tyrannosaurus kecil ditemukan dan disimpan di Cleveland Museum of Natural History selama empat dekade. Pada 1988, paleontolog Robert Bakker dan timnya mengumumkan temuan yang mengejutkan dunia ilmiah: berdasarkan tengkorak Cleveland, mereka mengusulkan adanya genus tyrannosaurus baru bertubuh kecil bernama Nanotyrannus.

Dinosaurus mungil ini diyakini hidup berdampingan dengan T. rex yang lebih besar. Namun, hipotesis tersebut memunculkan perdebatan. Pada 1999, Thomas Carr dari Carthage College berargumentasi bahwa tengkorak Cleveland sebenarnya adalah T. rex remaja, bukan spesies terpisah. Menurut Carr, perbedaan yang diamati hanyalah perubahan anatomi seiring pertumbuhan (ontogeni).

Bakker dan pendukung Nanotyrannus tetap bersikeras bahwa perbedaan ukuran tubuh, jumlah gigi, dan fitur tengkorak menandakan spesies berbeda. Namun, titik terang muncul berkat penemuan spesimen T. rex remaja pada 2001 di Montana timur, yang dinamai Jane oleh Burpee Museum of Natural History. Fosil ini memberikan kesempatan langka mempelajari anatomi Tyrannosaurus pada tahap awal.

Dalam pertemuan Society of Vertebrate Paleontology di Dallas, Texas, Thomas Carr dan rekan-rekannya mempresentasikan analisis komprehensif terhadap Jane. Temuan tersebut memberikan dukungan kuat bahwa fosil-fosil yang sebelumnya dideskripsikan sebagai Nanotyrannus sebenarnya adalah T. rex muda. Jane, berusia sekitar 11 tahun saat kematiannya, dianggap berada pada tahap transisi sebelum lonjakan pertumbuhan besar menuju bentuk dewasa.

Carr menilai Jane mengisi celah penting dalam pemahaman tentang lintasan pertumbuhan T. rex. Meski pendukung Nanotyrannus mengklaim adanya fosil lain, banyak dari spesimen tersebut tidak berada di museum terakreditasi, sehingga sulit diakses untuk studi ilmiah. Beberapa bahkan sempat ditawarkan untuk dijual melalui lelang publik.

Lebih dari selusin fosil T. rex lain diketahui dimiliki secara pribadi, menciptakan hambatan signifikan bagi upaya penelitian. Carr menekankan bahwa kesimpulan studi Jane tidak dapat berdiri sendiri dan perlu didukung sampel lain dari berbagai tahap usia. Masih terdapat celah dalam memahami kapan tepatnya tengkorak T. rex mulai bertransisi dari bentuk panjang dan sempit menjadi rahang dalam dan masif seperti dewasa.

Harapannya, penemuan fosil di masa depan dapat ditempatkan di museum publik agar memberi akses lebih luas kepada ilmuwan dalam mempelajari bagaimana Tyrannosaurus rex tumbuh dari remaja yang ramping menjadi predator puncak yang mengesankan.

Leave a reply

Become a Part of Something Bigger than Yourself. Together, we're creating a future where all children have a chance to succeed. Join Us!
© 2025. All Rights Reserved Paseban