Menanam Padi Bersama, Kisah Kembalinya Nilai Sakral Beras

Pada Sabtu pagi, 15 November 2025, keluarga besar Arista Montana berkumpul di sawah Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Suasana hangat menyelimuti pematang ketika seluruh peserta bersiap mengikuti kegiatan menanam padi bersama sebuah gerakan sederhana namun penuh makna tentang kedaulatan pangan, kebersamaan, dan penghormatan kepada tanah.

Di hadapan para peserta, Andy Utama memberikan pengantar yang menggugah kesadaran mengenai proses pangan yang selama ini sering terlupakan. “Pelan-pelan kita belajar lagi. Selama ini kita terbiasa membeli beras di warung. Kita lupa bahwa ada perjalanan panjang dari benih kecil sampai jadi makanan yang menghidupi kita setiap hari,” ujarnya.

Foto : ©aristamontana/Radian Ahmad

Andy juga menegaskan perubahan besar dalam cara mereka memaknai beras. “Saya mencanangkan bahwa beras kita tidak akan dijual. Beras itu sakral. Saudara-saudara kita Baduy sudah melakukan itu duluan. Kita ini termasuk telat memahaminya. Saya telat lima belas tahun, baru saya memahami dan mengaminkan bahwa beras itu tidak untuk kita jual belikan.”

Kegiatan menanam padi ini bukan hanya urusan pertanian, tetapi sebuah pengingat bahwa pangan seharusnya tidak terjebak dalam logika jual-beli. Andy menutup penjelasannya dengan satu pesan inti bahwa beras yang mereka hasilkan adalah untuk keluarga besar mereka, bukan untuk diperdagangkan.

Andy menjelaskan bahwa menanam padi bukan sekadar kegiatan bertani, tetapi juga sebuah proses pembelajaran tentang kesabaran dan ketulusan. Dalam menanam padi, hasil tidak datang dalam semalam, ada tahapan panjang yang harus dijalani, mulai dari menyiapkan lahan, menanam benih, merawat tanaman, hingga akhirnya panen.

Foto : ©yayasanpaseban/Irsyad Feisal Ahmad

Karena itu, ia menekankan agar kita tidak terpaku pada hasil, melainkan menjalankan kewajiban untuk menanam dan merawat dengan sepenuh hati, sementara hasilnya diserahkan kepada semesta. Ketika generasi muda dilibatkan dalam proses menanam ini, mereka tidak hanya belajar tentang pertanian, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat terhadap kerja keras para petani, sehingga mereka akan lebih menghargai setiap butir nasi yang tersaji di meja makan.

Setelah Andy berbicara, Kang Dody, seorang petani spiritual menyampaikan pandangan yang lebih dalam tentang makna padi bagi masyarakat Sunda dan nilai moral yang lahir dari sebutir nasi. “Sampurasun rahayu. Kita sebagai manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kebutuhan untuk tetap hidup, yaitu makanan. Dan makanan ini yang paling diutamakan adalah beras. Dari mulai persiapan penanaman padi sampai menjadi nasi itu memiliki perjalanan yang sangat panjang,” tuturnya.

Ia menjelaskan bagaimana masyarakat Sunda memuliakan padi dan nasi sebagai simbol kehidupan. “Ada istilah ulah ngaremeh artinya jangan menyiksa sebutir nasi, jangan membuang-buang makanan, atau jangan menyisakan makanan. Dari meja makan kita bisa belajar untuk tidak meremehkan hal yang kecil.” Ia menegaskan bahwa hal kecil dapat menjadi besar, bermanfaat, atau berbahaya, sehingga manusia harus terlatih untuk bertanggung jawab, menghargai, dan mencintai dari hal-hal terkecil sekalipun.

Foto : ©yayasanpaseban/Irsyad Feisal Ahmad

Menambah dimensi spiritual acara ini, Wiratno sebagai penasihat Yayasan Paseban memberikan pandangan tentang arti menanam padi dari sisi hubungan manusia dengan tanah. “Menanam padi itu bagian dari ritual yang menghubungkan kembali pikiran, hati, dan raga kita dengan tanah atau bumi, agar lebih menghayati asal muasal kita dari tanah dan akan kembali padanya selamanya suatu saat nanti.”

Seluruh kegiatan hari itu menjadi pengalaman batin yang sekaligus mengajarkan kembali nilai syukur, rasa hormat kepada makanan, serta kesadaran akan perjalanan panjang pangan mulai dari tanah hingga meja makan. Bagi keluarga besar Arista Montana, menanam padi bersama adalah simbol persatuan, sebuah ajakan untuk kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan, menghargai tanah, air, matahari, yang berarti menghargai makanan, dan menghargai proses untuk mendapatkannya.

Kegiatan itu menandai langkah baru dalam cara mereka memandang pangan, sekaligus menghidupkan kembali nilai sakral yang selama ini perlahan telah menghilang dari kehidupan manusia modern. […]

Leave a reply

Become a Part of Something Bigger than Yourself. Together, we're creating a future where all children have a chance to succeed. Join Us!
© 2025. All Rights Reserved Paseban