Mengolah Sampah Plastik Menjadi BBM, Inovasi Bank Sampah Banjarnegara Produksi Petasol

Inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) telah dilakukan oleh berbagai pihak melalui metode pirolisis, yaitu proses pemanasan tanpa oksigen yang mengubah plastik menjadi gas. Salah satu komunitas yang konsisten mengembangkan teknologi ini adalah Bank Sampah Banjarnegara (BSB).

Dikutip melalui halaman berita BBC Indonesia, senin, (1/12/2025). Dengan menggunakan mesin pirolisis rakitan Budi Trisno Aji, BSB telah memproduksi minyak bakar dari sampah plastik sejak 2014. Mesin pirolisis yang dinamai Faspol tersebut terus dikembangkan agar mampu menghasilkan BBM dengan kualitas yang lebih baik.

Mesin Faspol tidak hanya mampu menghasilkan bensin, namun produksi minyak bakar lebih difokuskan pada BBM setara solar yang kemudian dilabeli dengan jenama Petasol, akronim dari PE (polyethylene, jenis plastik) to solar.

Replika mesin Faspol yang kini telah berkembang hingga generasi ke-6 telah digunakan oleh sedikitnya 55 kelompok masyarakat di berbagai daerah, terutama para pegiat sampah. Salah satunya adalah Bank Sumberdaya Sampah (BSS) Induk Melong 26 Cimahi yang menggunakan Faspol Gen-6 dengan kapasitas 100 kilogram.

Sejak mengoperasikan reaktor Faspol pada Februari 2025, BSS Melong telah mengolah 30 ton sampah plastik menjadi BBM setara solar. Wahyu Dharmawan, pendiri BSS Induk Melong 26 Cimahi, menyebutkan bahwa kapasitas produksi maksimal dalam satu hari untuk 100 kilogram plastik dapat menghasilkan 60 hingga 90 liter BBM apabila plastik dalam kondisi bersih. Jika plastik cenderung kotor, produksi minimal mencapai sekitar 70 liter per hari.

Saat ini, Petasol produksi BSS Melong masih digunakan secara terbatas oleh pemilik kendaraan tertentu. Pemasaran secara luas masih menunggu terbitnya petunjuk teknis dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Wahyu menegaskan bahwa tujuan utama produksi Petasol lebih kepada misi lingkungan, yaitu mengurangi timbulan sampah plastik bernilai rendah yang selama ini tidak dimanfaatkan. Ia mengungkapkan bahwa sampah plastik bernilai rendah mendominasi timbulan sampah nasional. Di Pulau Jawa saja, persentasenya mencapai sekitar 45 hingga 65 persen dari total timbulan sampah plastik di Indonesia.

Menurutnya, sampah plastik bernilai rendah tersebut tidak seharusnya dibakar, dibuang ke badan air, atau dibawa ke tempat pembuangan akhir karena ukurannya besar namun ringan. Oleh karena itu, masyarakat yang ingin menggunakan Petasol diwajibkan untuk menyetor sampah plastik terlebih dahulu. Hal ini untuk mendorong terjadinya sirkular ekonomi sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang.

Petasol digunakan oleh masyarakat yang telah menyetor sampah plastik, sehingga tidak dapat digunakan oleh pihak yang tidak berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Petasol saat ini juga telah digunakan sebagai bahan bakar alat berat, traktor petani, hingga perahu nelayan. Menariknya, pengguna Petasol sejauh ini juga berasal dari kalangan pemilik kendaraan premium.

Leave a reply

Become a Part of Something Bigger than Yourself. Together, we're creating a future where all children have a chance to succeed. Join Us!
© 2025. All Rights Reserved Paseban