Apa kabar harimau sumatra? Kucing besar ini semakin terkurung dalam keping-keping habitat, seiring hutan yang banyak dibabat. Apalagi popu-lasi manusia yang melaju cepat, menyebabkan konflik dua spesies semakin dekat. Pada situasi ini sejatinya, manusia dan harimau sama-sama sebagai pihak yang merugi.
Diambil dari artikel National Geographic Indonesia, dalam judulnya “Lorek Harimau Benggala : Ancaman dan Keruntuhan Genetika,” tentang apakah benar manusia tak pernah paham cara hidup berdampingan dengan harimau? Untuk menjawab pertanyaan ini kami pernah menerbitkan dua edisi berturut-turut tentang nasib harimau kita.
Saya menjumpai nilai kewargaan ekologis dalam kisah “Merawat Arwah Rimba Raya” yang terbit pada Juli 2018. Warga penghuni lembah Gunung Kerinci memiliki budaya yang menyatukan manusia dengan harimau. Mereka menganggap harimau lebih tua daripada manusia. Demi menghormat, mereka menyebut “orang itu” untuk harimau.
Ada sebutan ‘sahabat harimau’ yakni orang-orang istimewa karena memiliki kemampuan berkomunikasi dengan roh harimau, baik berujud satwa maupun gaib, yang menjaga hutan. Ada juga sebutan ‘pawang’ yang memiliki kemampuan menjinakkan harimau. Di tengah konflik yang tidak berkesudahan antara manusia dan harimau, mereka berpeluang membantu mendamaikan demi kebaikan semesta. Ternak warga pun biasa berkeliaran tanpa kandang.
Kisah berikutnya bertajuk “Memulihkan Relasi yang Retak” terbit pada edisi berikutnya. Saya menjumpai makna harimau dalam sudut pandang yang berbeda menurut para transmigran asal Jawa di tepian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Bagi mereka, harimau menjelma semacam ‘hama’ yang kerap mencuri ternak. Saya pikir relasi semacam ini telah hadir lintas generasi di Jawa, sehingga pantaslah bila harimau jawa lebih dahulu punah pada akhir abad ke-20. Kolonialisme boleh jadi penyebabnya. Demi mengelola konflik yang tak berkesudahan, mereka mendesain kandang anti-pemangsaan.
Berapa jumlah populasi harimau sumatra saat ini? Sepanjang 2018 sampai 2023, Sumatra Wide Tiger Survey telah menjelajahi 23 lanskap hunian harimau sumatra. Berdasarkan hasil analisis kesintasan populasi, perkiraan harimau sumatra yang mengaum di alam pada 2013-2019 berjumlah sekitar 586 ekor dewasa. Sebuah jumlah yang terhitung kecil untuk pulau Sumatra yang tak mungil.
Pada edisi Oktober 2025 kami menyajikan kisah sampul harimau bengal di India berjudul “Kasus Janggal Harimau yang Mengubah Pola Loreknya”. Kisah bermula dari Suaka Harimau Similipal di Odisha, India. Di sinilah seekor harimau jantan langka, T12. Langka karena ia loreknya cenderung hitam akibat mutasi genetik.
Sepupu harimau sumatra ini boleh dibilang lebih beruntung karena populasinya mulai pulih di cagar alam. Ironisnya, keberhasilan ini menimbulkan tantangan baru, seperti populasi terisolasi yang rawan penyakit genetik. Perkawinan sedarah menjadi masalah. Peneliti menemukan gen pseudo-melanisme resesif telah menyebar dalam populasi itu. Jika isolasi genetik tersebut diabaikan, harimau bengal akan binasa.
Habitat harimau kian terfragmentasi dan tersekat-sekat akibat perambahan aktivitas manusia. Perkawinan sedarah dalam habitat yang sempit tidak terhindarkan. Sejatinya, kasus janggal harimau India ini bisa menjadi pertimbangan dalam konservasinya, termasuk di Indonesia.
Di negeri kita, sampai hari ini konflik antara manusia dan harimau sumatra memiliki kecenderungan meningkat dalam periode 2017-2024. Habitat “orang itu” semakin sempit dan tercerai-berai dalam komunitas kecil.
Apa pentingnya harimau untuk manusia? Kita kembali ke Tanah Air, lalu bercermin pada warga Kerinci yang memandang harimau sebagai warga bermartabat. Ikhtiar memuliakannya bermakna menjaga semesta, keseimbangan ekosistem yang menaungi kehidupan kita. **

